Kamis, 11 Desember 2008

Mohon Maaf atas Tersendatnya Pengadaan Hotspot

Mungkin hanya itu yang bisa kami lakukan sekarang, betapa tidak janji yang kadung diucapkan di hadapan khalayak bahkan langsung di hadapan Bapak Kepala BPPK pun dengan sangat terpaksa harus kami tunda lagi. Betapa tidak, dulu saya atas nama BEM STAN menjanjikan hotspot suda bisa dinikmati mahasiswa STAN pada bulan oktober. Namun karena kendala teknis panitia, akhirnya memang direncanakan baru bisa online di bulan November. Eh, ternyata kendala tersebut tidak hanya datang dari kekurangan siapan panitia saja. Tapi, cukup lama tertunda dan tersendat karena prosedur dan birokrasi yang ada lembaga kita.

Bayangkan saja, hanya mengurus surat keterangan dari lembaga saja, satu minggu tidak juga selesai. Begini ceritanya, untuk mengajukan pengadaan hotspot ke providernya kita diminta surat keterangan dari STAN sebagai badan tempat kita bernaung. Awalnya yang diminta adalah akta pendirian STAN, tapi karena kita bilang STAN gak punya akta, jadi surat keterangan pun dibolehkan. Alhasil, panitia pun langsung dengan sergap menghadap lembaga, karena bukan hanya itu yang dibutuhkan, fotokopi KTP dari pimpinan pun dibutuhkan. Lagi-lagi diluar dugaan, dengan alasan yang kita tidak tau, beliau menolak untuk memberikan yang diminta tersebut dan dialihkan ke bawaan beliau. tapi itu tidak dengan mudah kami peroleh. Mungkin mereka memegang principle yang berkata “no pain no gain’. Tapi kita jadi berpikir dalam hati, ini buat kebaikan dan pembelajaran di kampus, arah dan tujuannya jelas, koq seperti ini ya tanggapan dari lembaga.

Kembali ke masalah surat keterangan tadi, saya jadi berpikir jauh. Siapkah STAN menjadi sebuah BLU? Bagaimana bisa mengurus keuangan nya sendiri……. Jangan-jangan nanti salah kelola, atau gak bisa mengelola ya nanti…. Semoga ini hanya imaji yang hinggap sesaat ketika penat dan lelah mendera. Mengurus surat keterangan saja butuh waktu lebih dari seminggu? Mengurus NPWP saja sudah bisa satu jam. Lantas, Apa kata dunia?

Sebenarnya kalau kita sadari bersama, dengan pengadaan hotspot sangat mendukung pencapaian misi STAN yang pertama yaitu “Menghasilkan tenaga ahli dalam bidang keuangan dan akuntansi sektor publik yang bermoral tinggi dan berwawasan global”. Dalam hal ini, saya punya sedikit cerita dan pengalaman menarik sekaligus ironis terkait pembelajaran kita di kampus akuntansi tertua di nusantara ini. Semester VII yang lalu ketika pelajaran Teori Akuntansi pada saat pembahasan tentang konsep akuntansi saya menyampaikan di kelas bahwa sekarang Statement of Financial Accounting Concept itu sudah ada tambahan satu lagi lho, jadi sekarang jumlahnya 7 (tujuh) bukan 6 (enam) lagi. Yang saya kagetkan adalah, teman-teman di kelas sepertinya juga baru tahu termasuk sang dosen juga sempat kaget. Hal ini membuat saya sedikit berpikir. Akhirnya saya teliti lagi di buku Intermediate Acc Keiso Edisi terbaru (tentu saja ini milik pribadi ya bukan pinjaman dari Perpustakaan STAN), SAFC yang ketujuh ini kan diterbitkan tahun 2002 yang lalu. So, what?

Tahun 2002. Berarti itu pada saat saya tingkat satu di STAN ini, dan memang selama D3 pun, jujur, saya gak pernah tau ada SFAC apalagi SFAC yang ketujuh J. Dan saya kembali berpikir, atau mungkin mahasiswa STAN memang dididik hanya untuk tugas klerikal saja jadi gak perlu pemahaman konsep dan filosofi ala kadarnya. Kalau benar begitu alur berpikirnya, buat apa punya mission impossible mau menghasilkan ahli keuangan yang berwawasan global, cukup yang berwawasan “katak dalam tempurung” saja sudah cukup. Saya mengangguk tanpa sadar, mungkin ini yang membuat lembaga berlama-lama menyetujui hotspot ini.

Tapi salut, dan saya acungkan jempol buat teman-teman D3 mau belajar sendiri, mencari bahan dan browsing meng-update keilmuannya sendiri tanpa bergantung pada lembaga. Memang begitu lah seharusnya teman… semangat dan jiwa pembelajar sejati harus ada dalam diri kita…. Dan kampus yang abadi adalah kehidupan, teman.

Sepertinya sudah melenceng dari judul tulisan ini, tapi ada satu cerita menarik lagi yang seolah meng-amini cerita sebelumnya. Dalam kuliah Kepemimpinan dan Negosiasi, saya bertanya kepada kepad sang dosen, “Maaf Pak, koq tujuan pembelajaran kita cuma sebatas how to know a good leader dan a good negosiator sih, bukan how to becoming a good leader dan a good negosiator? Sang dosen pun menjawab, iya karena meskipun D4 kalian kan nanti masih punya atasan di kantor. Make sense, Bu Menteri pun masih punya Presiden sebagai atasan nya kan kalau jawabannya seperti itu.

What’s the point? Intinya adalah bagaimana di dalam diri setiap lulusan STAN terdapat pengetahuan bagaimana untuk menjadi pemimpin yang baik. Bagaimana tidak, di kantor, lulusan D3 STAN menjadi garda terdepan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga harus dibekali dengan attitude2 seorang pemimpin. Bukankah ini juga harapan Bu Menteri terhadap lulusan STAN, dilengkapi dengan skill dan knowledge yang cemerlang tentunya.

Tulisan ini bukan dan sama sekali tidak bermaksud untuk mendiskreditkan lembaga, tapi sebagai renungan bagi kita bersama agar bisa berbenah ke arah yang lebih baik lagi. Karena tidak jarang kita butuh yang mengingatkan dalam hal ini. Sehingga STAN sebagai center of excellent Depkeu bisa terwujudnya, dalam jangka panjang tentunya. Dalam jangka pendeknya adalah agar hospot bisa segera beroperasi di kampus ini J. Better late than never!

Palembang, 7 Desember 2008

Ketika Orde Baru Kembali Masuk Kampus….

Sedikit mengernyitkan dahi pasti ketika membaca judul barusan. Tapi ini sebuah cerita yang merupakan fakta dan baru saja terjadi 2 (dua) hari yang lalu. Yaitu ketika pembelajaran politik ditiadakan di kampus plat merah ini. Kalau dulu pas orde baru, diharuskan kepada semua pegawai agar hanya memilih parpol tertentu saja. Sekarang acara yang diadakan dalam rangka pembelajaran politik mahasiswa ditolak mentah-mentah dari lembaga. Bukankah ini sama saja ketiadaan pembelajaran politik sama halnya ketika tangan besi orde baru berkuasa…

Begini ceritanya, dua hari yang lalu, dari panitia seminar politik yang merupakan kerja bareng BEM dan HIMAS, menemui pihak otoritas dari lembaga, mau mengajukan proposal kegiatan di mana kita rencanakan mengundang Hidayat Nur Wahid, Megawati, Anas Urbaningrum, dan Prabowo (sebagai Plan A). kemudian sebagai plan B kita rencanakan juga mengundang Effendi Ghazali, Rama Pratama, dll. Dan plan C adalah kalau kedua rencana tadi ditolak juga kita mengundang KPU dan Panwaslu serta komite independen pengawas PEMILU saja dalam rangka tetap ingin memberikan pembelajaran politik bagi mahasiswa STAN menjelang Pemilu 2009.

Panitia pun sadar kita tidak boleh dan tidak mau terjebak dalam kancah politik praktis. Makanya kita mengundang para pembicara tersebut dengan kapasitas mereka sebgai tokoh nasional bukan sebagai kader partai tertentu. Tidak berselang lama, panita langsung ketemu dengan pihak lembaga, tapi jauh harap dengan yang didapat, “kita tidak butuh acara seperti ini dan apa-apa yang terkait Pemilu 2009 kita gak usah terlibat”. Cukup mengangetkan juga ya, saja jadi berpikir, jangan-jangan nih bapak sudah gabung geng nya Gus Dur, biar Pemilu 2009 nanti golput aja, gak usah ambil peduli bangsa dan negeri ini mau dibawa ke mana J.

Pihak lembaga tentu punya alasan tersendiri dengan tidak mengijinkan acara tersebut. Dan, kami pun tentu punya alasan dan dasar mau mengadakan acara tersebut. Namun, ketika sebuah ide dan niatan yang tidak ada titik temu nya dan terbentur dengan dinding yang namanya birokrasi, ide tinggallah ide, kegiatan tinggallah kegiatan. Namun, itu tentu tidak boleh membuat kami patah arang, patah semangat, apalagi patah hati. Kalau saja Edison berhenti untuk belajar ketika dibilang bodoh oleh guru dan teman-temannya, tentu kita tidak tahu kapan mulai bangun dari kegelapan dan mengenal lampu pijar (tentu saja harus ada Edison-Edison lain.

Kita tidak mau diam, tapi harus tetap bergerak. Bergerak dan ambil bagian dalam perubahan bangsa ini, sekecil apa pun itu, dan tentu sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas kita masing-masing. Kalau saja tidak ada seorang Mandela yang menentang Apartheid di Afrika, mungkin saja Obama tidak akan pernah menjadi orang nomor satu di Amerika sana.

Padahal kalau kita mau berpikir, ada sekitar 5000-an mahasiswa STAN, tentu sebuah jumlah besar yang bisa memberikan sebuah warna tersendiri dalam kancah perubahan bangsa ini. Tentu juga masih sangatkecil jika dibandingkan 100 ribuan suara yang dibutuhkan seorang calon anggota legislative untuk memperoleh sebuah kursi di dewan. Kita tinggal pilih, mau menjadi bagian apa dan yang mana… menjadi lokomotif perubahan atau hanya menjadi orang yang tertinggal di sebuah stasiun. Life’s the matter of choice……

Palembang, 7 Desember 2008.

Edisi Perdana Yang Tertunda

Bismillahirrohmannirohim…

Alhamdulillah, setelah melewati perjuangan yang begitu berat, panjang dan berliku, akhir keluar juga edisi perdana di blog ini. Terima kasih buat si Ntom dengan “Me, Myself and Tomi” dengan “cacian dan hinaannya” (red: menyemangati dink tepatnya) yang sengaja membuat link blok ku dengan blog nya Ntom padahal udah tau belum ada ada isinyaJ, kan bikin malu tuh kalo ada yang buka tapi ompong gak ada isinya gitu.

Sebenernya sempet mau hire Si Pembawa Cerita sih buat update dan ngurus nih blog, tapi mengingat ini Si Pembawa Cerita juga sibuk, jadi dia gak mau, “sibuk Hen…mau ngurus pergantian status nih”, celetuknya. Status apa nih? Aktivis blog satu ini ntar lagi mau “farewell party” ngelepas status bujang nya nih, kita doakan dapat membetuk keluarga “samara” ya, sakinah, mawaddah, dan warohmah ya mas… amiiin…

Sebelumnya mau ngucapin “Met Shoum Ramadhan ya buat semua (yang liat nih blog: ada gak ya? Ada lah, pokoknya anak-anak Pondok Muslim kudu buka bih blog ya J. Musti lebih baik dari tahun kemaren lah pokoknya, kalo gak kan nanti kita termasuk orang yang merugi, mau nya kan jadi orang yang untung (akuntan bgt ya, mau nya untung terus nih:), apalagi jangan sampe jadi orang yang celaka ya, yakni orang yang harini ato ramadhan kali ini malah lebih buruk. Harus jadi akuntan ya, jadilah orang yang beruntung, Go for it…!

Sebagai hidangan pembuka buat para pengunjung sekalian, ada sedikit oleh-oleh cerita nih, tak kasih nama “Indahnya Ukhuwah” yang kayaknya gak bakalan lupa nih.

Ceritanya begini, 15 Agustus 2008 kemaren, tepatnya di Masjid Al Azhar Kebayoran Baru (daerah disekitar BLOK M bagi yang belum tau), kebetulan memang “meeting point” nya di sana. Eh, tak disangka-sangka naas betul saat itu, punya hape dua bener-bener gak ada gunanya, yang GSM lowbat ga bawa charger lagi, yang CDMA tak punya account alias gak ada pulsanya, gak ada yang jualan pulsa lagi…

Pokoknya pikran udah gak tenang aja, mau ketemu orang tapi lost kontak sama sekali, masa mau muterin Komplek Al Azhar, yang bener aja, mana udah rame banget mau jum’atan soalnya.

Akhirnya, ingat kalo ada seorang teman di sana, seorang “guru” yang pernah berbagi ilmu dan pengalaman, nasihat, dan canda tawa bersama. Kebetulan beliau ini sebagai Kepala Kantor Kas BSM Al Azhar, “Alhamdulillah, ada tempat minta tolong nih…” pikirku.

Segera kulangkahkan kaki ke sana, karena udah mendekati pukul 11 nih, dan setelah salam, jabat tangan, dan peluk, kami berdua mengobrol saling tanya kabar satu sama lain, karena memang udah lama gak ketemu nih. Urusan telepon udah beres deh pokoknya, “Alhamdulillah….inilah nikmatnya tali silaturahim dan ukhuwah yang terbina, urusan jadi mudah” syukur ku dalam hati. Gak lama, beliau bilang ”ke bawah yuk Hen, eh rejeki mau datang lagi rupanya, dengan sumringah kusantap dengan lahap “Soto Mie + Mocca Capuccino” nya. Bagian terpentingnya adalah, obrolan kita pas makan nih.

Saya lagi “kering” nih…kasih nasihat donk Pak? ceplos ku. Menatap ke arahku dan akhirnya bicara. Mungkin lagi kurang amal aja kali, atau kurang sedekahnya nih. Terus bercerita menyemangati dengan gaya khas nya yang berapi-api, maklum beliau juga punya jabatan di tempat lain sebagai “korsat”. Lepas dari obrolan itu, bara semangat dan api optimisme itu pun kembali berkobar. Tuk mengarungi amanah kehidupan nih dengan sebaik-baiknya, karena begitu banyak peran yang mesti kita jalani sobat.

Sobat, semoga persahabatan yang kita bina sekarang ini tidak hanya persahabatan yang berupa “fatamorgana” saja, tapi jadikan lah ini persahatan yang kekal, saling mengisi, saling menasihati, saling memperbaiki, meskipun terkadang ada ras enggan, dan tidak enak hati ketika mau menegur sahabat kita yang sedang tergelincir. Bukankah kita ingat kisah Kholifah Umar bin Khottob ketika mengingatkan Amr bin Ash ketika menjabat sebagai Gubernur Yaman….jadi kalau ada teman, sahabat, dan saudara kita yang sedang pesimis, buatlah ia kembali optimis, ketika berada tidak pada jalurnya, segera ingatkan..karena itulah sebenarnya persahabatanyang sejati itu.

Yang terpenting, jadilah sahabat bagi saudaramu ketika ia melihatmu maka dapat membangkitkan semangatnya untuk trus berjuang mengarungi kehidupan ini dengan penuh rasa semangat, syukur dan ta’abud kepada Sang Kholik.

POndok Muslim, 3 September 2008