Begini ceritanya, dua hari yang lalu, dari panitia seminar politik yang merupakan kerja bareng BEM dan HIMAS, menemui pihak otoritas dari lembaga, mau mengajukan proposal kegiatan di mana kita rencanakan mengundang Hidayat Nur Wahid, Megawati, Anas Urbaningrum, dan Prabowo (sebagai Plan A). kemudian sebagai plan B kita rencanakan juga mengundang Effendi Ghazali, Rama Pratama, dll. Dan plan C adalah kalau kedua rencana tadi ditolak juga kita mengundang KPU dan Panwaslu serta komite independen pengawas PEMILU saja dalam rangka tetap ingin memberikan pembelajaran politik bagi mahasiswa STAN menjelang Pemilu 2009.
Panitia pun sadar kita tidak boleh dan tidak mau terjebak dalam kancah politik praktis. Makanya kita mengundang para pembicara tersebut dengan kapasitas mereka sebgai tokoh nasional bukan sebagai kader partai tertentu. Tidak berselang lama, panita langsung ketemu dengan pihak lembaga, tapi jauh harap dengan yang didapat, “kita tidak butuh acara seperti ini dan apa-apa yang terkait Pemilu 2009 kita gak usah terlibat”. Cukup mengangetkan juga ya, saja jadi berpikir, jangan-jangan nih bapak sudah gabung geng nya Gus Dur, biar Pemilu 2009 nanti golput aja, gak usah ambil peduli bangsa dan negeri ini mau dibawa ke mana J.
Pihak lembaga tentu punya alasan tersendiri dengan tidak mengijinkan acara tersebut. Dan, kami pun tentu punya alasan dan dasar mau mengadakan acara tersebut. Namun, ketika sebuah ide dan niatan yang tidak ada titik temu nya dan terbentur dengan dinding yang namanya birokrasi, ide tinggallah ide, kegiatan tinggallah kegiatan. Namun, itu tentu tidak boleh membuat kami patah arang, patah semangat, apalagi patah hati. Kalau saja Edison berhenti untuk belajar ketika dibilang bodoh oleh guru dan teman-temannya, tentu kita tidak tahu kapan mulai bangun dari kegelapan dan mengenal lampu pijar (tentu saja harus ada Edison-Edison lain.
Kita tidak mau diam, tapi harus tetap bergerak. Bergerak dan ambil bagian dalam perubahan bangsa ini, sekecil apa pun itu, dan tentu sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas kita masing-masing. Kalau saja tidak ada seorang Mandela yang menentang Apartheid di Afrika, mungkin saja Obama tidak akan pernah menjadi orang nomor satu di Amerika
Padahal kalau kita mau berpikir, ada sekitar 5000-an mahasiswa STAN, tentu sebuah jumlah besar yang bisa memberikan sebuah warna tersendiri dalam kancah perubahan bangsa ini. Tentu juga masih sangatkecil jika dibandingkan 100 ribuan suara yang dibutuhkan seorang calon anggota legislative untuk memperoleh sebuah kursi di dewan. Kita tinggal pilih, mau menjadi bagian apa dan yang mana… menjadi lokomotif perubahan atau hanya menjadi orang yang tertinggal di sebuah stasiun. Life’s the matter of choice……
Semangat, Hen...
BalasHapusSemoga ada jalan keluarnya... dan acaranya bisa terlaksana.