Kamis, 11 Desember 2008

Edisi Perdana Yang Tertunda

Bismillahirrohmannirohim…

Alhamdulillah, setelah melewati perjuangan yang begitu berat, panjang dan berliku, akhir keluar juga edisi perdana di blog ini. Terima kasih buat si Ntom dengan “Me, Myself and Tomi” dengan “cacian dan hinaannya” (red: menyemangati dink tepatnya) yang sengaja membuat link blok ku dengan blog nya Ntom padahal udah tau belum ada ada isinyaJ, kan bikin malu tuh kalo ada yang buka tapi ompong gak ada isinya gitu.

Sebenernya sempet mau hire Si Pembawa Cerita sih buat update dan ngurus nih blog, tapi mengingat ini Si Pembawa Cerita juga sibuk, jadi dia gak mau, “sibuk Hen…mau ngurus pergantian status nih”, celetuknya. Status apa nih? Aktivis blog satu ini ntar lagi mau “farewell party” ngelepas status bujang nya nih, kita doakan dapat membetuk keluarga “samara” ya, sakinah, mawaddah, dan warohmah ya mas… amiiin…

Sebelumnya mau ngucapin “Met Shoum Ramadhan ya buat semua (yang liat nih blog: ada gak ya? Ada lah, pokoknya anak-anak Pondok Muslim kudu buka bih blog ya J. Musti lebih baik dari tahun kemaren lah pokoknya, kalo gak kan nanti kita termasuk orang yang merugi, mau nya kan jadi orang yang untung (akuntan bgt ya, mau nya untung terus nih:), apalagi jangan sampe jadi orang yang celaka ya, yakni orang yang harini ato ramadhan kali ini malah lebih buruk. Harus jadi akuntan ya, jadilah orang yang beruntung, Go for it…!

Sebagai hidangan pembuka buat para pengunjung sekalian, ada sedikit oleh-oleh cerita nih, tak kasih nama “Indahnya Ukhuwah” yang kayaknya gak bakalan lupa nih.

Ceritanya begini, 15 Agustus 2008 kemaren, tepatnya di Masjid Al Azhar Kebayoran Baru (daerah disekitar BLOK M bagi yang belum tau), kebetulan memang “meeting point” nya di sana. Eh, tak disangka-sangka naas betul saat itu, punya hape dua bener-bener gak ada gunanya, yang GSM lowbat ga bawa charger lagi, yang CDMA tak punya account alias gak ada pulsanya, gak ada yang jualan pulsa lagi…

Pokoknya pikran udah gak tenang aja, mau ketemu orang tapi lost kontak sama sekali, masa mau muterin Komplek Al Azhar, yang bener aja, mana udah rame banget mau jum’atan soalnya.

Akhirnya, ingat kalo ada seorang teman di sana, seorang “guru” yang pernah berbagi ilmu dan pengalaman, nasihat, dan canda tawa bersama. Kebetulan beliau ini sebagai Kepala Kantor Kas BSM Al Azhar, “Alhamdulillah, ada tempat minta tolong nih…” pikirku.

Segera kulangkahkan kaki ke sana, karena udah mendekati pukul 11 nih, dan setelah salam, jabat tangan, dan peluk, kami berdua mengobrol saling tanya kabar satu sama lain, karena memang udah lama gak ketemu nih. Urusan telepon udah beres deh pokoknya, “Alhamdulillah….inilah nikmatnya tali silaturahim dan ukhuwah yang terbina, urusan jadi mudah” syukur ku dalam hati. Gak lama, beliau bilang ”ke bawah yuk Hen, eh rejeki mau datang lagi rupanya, dengan sumringah kusantap dengan lahap “Soto Mie + Mocca Capuccino” nya. Bagian terpentingnya adalah, obrolan kita pas makan nih.

Saya lagi “kering” nih…kasih nasihat donk Pak? ceplos ku. Menatap ke arahku dan akhirnya bicara. Mungkin lagi kurang amal aja kali, atau kurang sedekahnya nih. Terus bercerita menyemangati dengan gaya khas nya yang berapi-api, maklum beliau juga punya jabatan di tempat lain sebagai “korsat”. Lepas dari obrolan itu, bara semangat dan api optimisme itu pun kembali berkobar. Tuk mengarungi amanah kehidupan nih dengan sebaik-baiknya, karena begitu banyak peran yang mesti kita jalani sobat.

Sobat, semoga persahabatan yang kita bina sekarang ini tidak hanya persahabatan yang berupa “fatamorgana” saja, tapi jadikan lah ini persahatan yang kekal, saling mengisi, saling menasihati, saling memperbaiki, meskipun terkadang ada ras enggan, dan tidak enak hati ketika mau menegur sahabat kita yang sedang tergelincir. Bukankah kita ingat kisah Kholifah Umar bin Khottob ketika mengingatkan Amr bin Ash ketika menjabat sebagai Gubernur Yaman….jadi kalau ada teman, sahabat, dan saudara kita yang sedang pesimis, buatlah ia kembali optimis, ketika berada tidak pada jalurnya, segera ingatkan..karena itulah sebenarnya persahabatanyang sejati itu.

Yang terpenting, jadilah sahabat bagi saudaramu ketika ia melihatmu maka dapat membangkitkan semangatnya untuk trus berjuang mengarungi kehidupan ini dengan penuh rasa semangat, syukur dan ta’abud kepada Sang Kholik.

POndok Muslim, 3 September 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar