Kamis, 11 Desember 2008

Miskomunikasi yang berujung konfrontasi...

Mulut-mu adalah harimau-mu. Tepat sekali ungkapan itu, betapa tidak gara-gara salah ucap yang akhirnya berujung salah tulis dalam Warta Kampus, media komunikasi BEM STAN, berbuntut sebuah petisi dari para ketua organda di STAN, agar BEM segera membuat pernyataan permohonan maaf kepada khalayak karena dianggap sebuah kebohongan publik. Hal ini bermula dari rapat koordinasi BEM STAN dengan organda yang dihadiri oleh semua-hampir semua organda, beserta Wapresma dan Menteri Humpol dari pihak BEM. Hal ini pada dasarnya hanya berupa koordinasi biasa, dan mungkin yang pertama kali diadakan dalam rangka memperbaiki komunikasi dan koordinasi dengan semua pihak di KM STAN ini.


Dalam koordinasi tersebut memang tidak ada niatan dari BEM untuk menjadikan organda-organda tersebut berada dalam naungan BEM, karena memang pada dasarnya organda memang merupakan sebuah organisasi independen dan informal dalam struktur KM STAN tanpa menafikan juga betapa pentingnya urgensi dari keberadaan organda-organda tersebut bagi mahasiswa itu sendiri. Alasan utama diadakannnya rakor tersebut adalah mengingat mereka-organda, tetap membutuhkan koordinasi dengan BEM. Hal ini terlihat dari seandainya mau menggunakan gedung di kampus atau bahkan berniat mengadakan kegiatan dan acara di luar kampus atau di daerah masing-masing yang membawa nama STAN, maka pihak lembaga tidak akan mengijinkan kalau belum ada otorisasi/ sepengetahuan dari BEM. Sebenarnya ini bukan berlaku bagi organda saja tetapi kepada semua elemen kampus yang ada di STAN.


Namun dalam Warta Kampus Edisi 8/VI/08 diberitakan bahwa posisi organda berada dalam naungan Dephumpol. Tentu saja ini memancing amarah dari pengurus organda tersebut karena mereka merasa tidak pernah membuat kesepakan seperti itu. Dan secara pribadi, saya pun sebagai salah seorang mantan ketua organda (KEMUSI STAN 2003) tidak sepakat kalau organda berada di bawah naungan BEM, tetapi kalau hanya dalam status koordinasi saja tentu hal ini harus kita apresiasi. Sehingga dengan adanya kordinasi tersebut diharapkan akan terjalinnya komunikasi yang lebih baik bagi kedua pihak, dan tentunya juga semoga dapat saling membantu dan mengakomodasi kegiatan ataupun kepentingan keduanya.


Peristiwa ini jadi mengingatkan saya betapa pentingnya sebuah komunikasi yang baik yang akan membawa sesuatu yang baik pula, bukan malah sebaliknya. Seperti kisah terbunuhnya Husein bin Ali, cucu Rasulullah, yang menjadi “tahanan politik” pada masa Muawwiyah. Ini berawal ketika Muawwiyah memerintahkan komandan pasukannya saat itu untuk mengawasi Husein saat itu, namun perintah untuk mengawasi tersebut dianggap titah untuk membunuh cucu manusia paling agung tersebut, yang pada akhirnya membuat Muawwiyah pun menyesalkan hal tersebut. Peristiwa Kabbalah ini pun masih dikenang oleh kaum Syiah di Iran sampai sekarang dengan melakukan ritual setiap bulan Muharram, terlepas dari sesuai atau tidaknya prosesi tersebut dengan susunan syariat.

Masih terngiang di telinga kita ketika orde baru masih berkuasa, bagaimana salah tafsir dalam komunikasi ini berujung hilangnya nyawa seseorang atau bahkan banyak orang. Padahal maksud dari Pak Harto memang sebatas tertib-kan saja, bukan untuk membuat keadaan jadi tertib harus dengan menghilangkan atau mengbungkam orang tersebut.


Pada intinya saya hanya ingin berpesan kepada kita semua bijaklah dalam berkomunikasi karena luka di badan masih bisa diobati, luka di hati karena ucapan kita siapa yang tau. Selain itu komunikasi juga kan sebuah proses yang interaktif, di mana ada proses konfirmasi dan klarifikasi di dalamnya bukan konfrontasi dan anarkisme!

Jurangmangu, 6 Oktober 2008

2 komentar:

  1. Jadi pemimpin memang tak mudah, dari ucapan sampai pertanggungjawaban semua akan dinilai... Maka semoga Henderi tetap amanah :).

    BalasHapus
  2. Tugas sebagai Presma memang sangat berat dan menantang ya... Semoga bisa menjalankan amanat ini dengan baik ya Dek...

    --Salam hangat dari benua seberang--

    BalasHapus