“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".
Hari ini para jamaah haji dari seluruh dunia melakukan wukuf di Arofah, sebuah pertanda bahwa hari raya Idul Adha akan dirayakan pula esok harinya oleh seluruh umat muslim seluruh dunia. Dan dalam meneladani (ittiba’) keikhlasan nabi Ibrahim as dan nabi Ismail as, umat muslim pun dianjurkan untuk berkurban. Tak terkecuali di Indonesia, Palembang tepatnya, khususnya lagi di Kertapati, atau Daerah Sungki (banyak teman-teman yang sudah familiar dengan daerah tersebut), juga menyembelih hewan kurban bagi yang mampu, berbagi daging kurban tentu sebuah hal yang menggembirakan bagi si fakir ketika pada hari biasa tentu tidak gampang diperolehnya.
Tapi ada yang sedikit aneh saya rasakan di sini. Maklum sudah 5 (lima) tahun saya tidak pernah merayakan Idul Adha bersama keluarga di Palembang. Sudah kali kedua ini saya turut mengajak teman untuk ikut berkurban di tempat saya karena memang tergolong cukup sedikit pekurban di sini.
Selepas sholat zhuhur di masjid, saya bilang sama imam masjid yang sekaligus panitia kurban, meski sebenarnya juga tidak ada panitia resmi kurban tahun ini, “kambing-nya baru di-antar besok Pak, biar gak susah ngurusnya malam ini Pak”…kemudian jawabnya “iya gakpapa, besok nanti dimandikan dulu aja, terus dikasih minyak wangi ama kembang kalo udah dimandikan”. Mendengar ini, spontan saya cukup kaget meski gak saya perlihatkan kalo saya tidak setuju dengan hal itu.
Mungkin itu sedikit cuplikan dari kehidupan masyarakat kita, ada yang berkurban bagi almarhum dan almarhumah, kecuali kalo itu memang wasiat atau permintaan dari almarhum dan almarhumah. Padahal kan kita tahu, “Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya. (HR. Muslim)”
Dan hal ini pasti masih terjadi di banyak tempat lain di belahan bumi nusantara ini. Masyarakat kita masih belum terlepas dari penyakit “TBC”, takhayul, bid’ah, dan (c)khurafat :) Sudah menjadi kewajiban orang-orang yang mengerti tentang Islam ini untuk turut menegakan Al Islam ini sesuai dengan keasliannya. Tentu, hal ini harus kita lakukan dengan cara yang ahsan donk, tidak dengan cara petantang-petenteng, mentang-mentang sudah Lc dari Jurangmangu (Lc : Lulusan Ceger).
Besok gimana ya? Tentu saya gak mau melakukan hal itu, tapi caranya kita liat besok aja deh….. saya jadi ingat, tadi pagi nelpon Panitia Kurban di MBM, dapet 50-an kambing, gimana mau mandiin nya ya…..
Palembang, malam menjelang Idul Adha 1429 H
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusIya kadang aneh2aja masyarakat kita. Pernah ane dengar obeolandi angkot bahwa ada yng berkurban buat menghindari kesialan karena tahun lalu katanya sekalinya nggak kurban mertuanya meninggal.
BalasHapusSalam kenal akh HEnderi.Kokpakenya blogspot? temen2 ikhwah di STAN bannyakan pake Multiply lho.
Cara yang ahsan memang penting banget... gawat juga kalau segalanya dikerasin langsung.
BalasHapushmmmmmm.....
BalasHapusberarti aku jugo termasuk yang keno penyakit tbc yo hen?
tapi kalo emang dak diterimo berarti seharusnyo solat jenazah dak katek. kan percuma kito nyolatke jenazah trus bedoa minta ampunan untuk dio padahal apo yang kito lakuke dak bakal nyampe. apo mungkin cak itu?
tolong jelaske hen kalu sempet. kok sekilas bertentangan? (oh yo harus dengan cara yang ahsan ye hehehe...)